PASAR PATI

Kumpulan semua warga pati dan sekitarnya untuk menjalin persahabatan


You are not connected. Please login or register

Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit Part X

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

whotte2


Admin
RUNTUHNYA MAJAPAHIT
Mendekati detik-detik pemberontakan
Demak Bintara berkembang pesat. Tempat ini
dirasa strategis untuk pengembangan militansi
Islam karena letaknya agak jauh dari pusat
kekuasaan. Di Demak Bintara, para ulama-ulama
Putihan sering mengadakan pertemuan. Jadilah
Demak Bintara dikenal sebagai Kota Seribu Wali.
Ditambah pada tahun 1475 Masehi, seorang
ulama berdarah Mesir-Sunda datang dari Mesir.
Dia adalah Syarif Hidayatullah. Dia datang
bersama ibunya Syarifah Muda’im. Syarifah
Muda’im adalah putri Pajajaran. Putri dari Prabhu
Silihwangi penguasa Kerajaan Pejajaran. ( Hanya
Kerajaan ini yang tidak masuk wilayah Majapahit.
Walau kecil, Pajajaran terkenal kuat. Anda bisa
membayangkan adanya Timor Leste sekarang.
Seperti itulah keadaan Majapahit dan Pajajaran. :
Damar Shashangka
).!Nama asli Syarifah Muda’im adalah Dewi Rara
Santang. Dia bersama kakaknya Pangeran
Walangsungsang, tertarik mempelajari Islam.
Ketika berada di Makkah, Dewi Rara Santang
dipinang oleh bangsawan Mesir, Syarif Abdullah.
Menikahlah Dewi Rara Santang dengan
bangsawan ini. Dan namanya berganti Syarifah
Muda’im. Dari pernikahan ini, lahirlah Syarif
Hidayatullah.
Pangeran Walang Sungsang, mendirikan daerah
hunian baru di pesisir utara Jawa barat. Dikenal
kemudian dengan nama Tegal Alang-Alang. Lantas
berubah menjadi Caruban. Berubah lagi menjadi
Caruban Larang. Pada akhirnya, dikenal dengan
nama Cirebon sampai sekarang.
Pangeran Walang Sungsang, dikenal kemudian
dengan nama Pangeran Cakrabhuwana. Oleh
ayahandanya, Prabhu Silihwangi diberikan gelar
kehormatan Shri Manggana.
Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran
Cakrabhuwana lantas dikenal dengan nama
Sunan Gunung Jati.
Awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Sunan Giri
terpilih sebagai penggantinya. Pusat Majelis
Ulama Jawa kini berpindah ke Giri Kedhaton. Dan,
pada waktu inilah tragedi Syeh Siti Jenar terjadi.
Syeh Siti Jenar dipanggil ke Giri Kedhaton dan
disidang oleh Dewan Wali Sangha dibawah
pimpinan Sunan Giri. Walau tidak mengakui
keberadaan Majelis Ulama Jawa, beliau tetap
hadir. Beliau dituduh telah menyebarkan aliran
sesat. Adapula yang menuduh sebagai antek-
antek Syi’ah. Ada juga yang mengatakan beliau
ahli sihir, dan lain sebagainya. ( Akan saya buat
catatan tersendiri tentang beliau : Damar
Shashangka
).
Pada sidang pertama para ulama yang tergabung
dalam Dewan Wali Sangha tidak bisa menemukan
kesalahan Syeh Siti Jenar. Sehingga, beliau lantas
dibebaskan dari segala tuduhan. Namun
bagaimanapun juga, Syeh Siti Jenar adalah duri
didalam daging bagi mereka. Maka sejak saat itu,
kesalahan-kesalahan beliau senantiasa dicari-cari.
Konsentrasi Dewan Wali Sangha terpecah pada
rencana perebutan kekuasaan. Melalui
serangkaian musyawarah yang pelik, maka
disimpulkan, kekuatan militansi Islam sudah
cukup siap untuk mengadakan perebutan
kekuasaan. Raden Patah, Adipati Demak Bintara,
terpilih secara mutlak sebagai pemimpin gerakan.
Kubu Abangan, tidak menghadiri musyawarah ini.
Apalagi semenjak Dewan Wali Sangha atau Majelis
Ulama Jawa dipegang Sunan Giri, hubungan kubu
Putihan dan kubu Abangan kian meruncing.
Sunan Kalijaga dan para pengikutnya hanya mau
membantu Dewan Wali Sangha merampungkan
pembangunan Masjid Demak. Selebihnya, mereka
tidak ikut campur.
Persiapan sudah matang. Tinggal memilih hari
yang ditentukan. Pasukan Telik Sandhibaya
( Intelejen ) Majapahit mengendus rencana ini.
Prabhu Brawijaya mendapat laporan para
pasukan Intelejen yang ada disekitar Demak
Bintara. Sayangnya, beliau tidak begitu
mempercayainya. Beliau berkeyakinan, tidak
mungkin Raden Patah, putra kandungnya sendiri
akan nekad berbuat seperti itu. Prabhu Brawijaya
tidak memahami betapa militant-nya orang yang
sudah terdoktrin!
Dan manakala pergerakan pasukan besar-besaran
terdengar, yaitu pasukan orang-orang Islam
Putihan, gabungan dari seluruh lasykar yang ada
di wilayah pesisir utara Jawa timur sampai Jawa
barat mulai bergerak. Keadaan menjadi gempar!
Para Pejabat daerah kalang kabut. Mereka tidak
menyangka orang-orang Islam sedemikian
banyaknya.
Setiap daerah yang dilalui pasukan ini, tidak ada
yang bisa membendung. Kekuatan mereka cukup
besar. Persiapan mereka cukup tertata.
Sedangkan daerah-daerah yang dilalui, tidak
mempunyai persiapan sama sekali. Daerah
perdaerah yang dilewati, harus melawan sendiri-
sendiri. Tidak ada penyatuan pasukan dari daerah
satu dengan daerah lain. Semua serba mendadak.
Dan tak ada pilihan lain kecuali melawan atau
mundur teratur.
Gerakan pasukan ini cukup kuat. Para Adipati
yang berhasil mundur segera melarikan diri ke
ibu kota Negara. Mereka melaporkan agresi
mendadak pasukan pesisir yang terdiri dari orang-
orang Islam itu.
Dan dari mereka, Prabhu Brawijaya mendapat
laporan yang mencengangkan, yaitu telah terjadi
pergerakan pasukan dari Demak Bintara. Pasukan
berpakaian putih-putih. Berbendera tulisan asing!
Berteriak-teriak dengan bahasa yang tidak
dimengerti! Pasukan ini dapat dipastikan adalah
pasukan orang-orang Islam. Dan kini, tengah
bergerak menuju ibu kota Negara Majapahit.
Percaya tidak percaya Prabhu Brawijaya
mendengarnya. Laporan pasukan Telik
Sandhibaya selama ini telah menjadi kenyataan..
Namun, Prabhu Brawijaya tetap tidak bisa
mengerti, mana mungkin Raden Patah berbuat
seperti itu. Mana mungkin orang-orang Islam
berani dan tega mengadalan pemberontakan.
Selama ini, Majapahit telah memberikan bantuan
material yang tidak sedikit bagi mereka. Sesak!
Dada Prabhu Brawijaya seketika serasa sesak
bagai dihantam palu! Bergemuruh mendidih!
Beliau menyebut Nama Mahadeva berkali-kali.

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik