PASAR PATI

Kumpulan semua warga pati dan sekitarnya untuk menjalin persahabatan


You are not connected. Please login or register

Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit Part VIII

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

whotte2


Admin
Kebo Kenanga lantas dikenal dengan nama Ki
Ageng Pengging.
Ki Ageng Pengging sangat akrab dengan Syeh Siti
Jenar. Keduanya, yang satu beragama Shiva
Buddha dan yang satu beragama Islam, sama-
sama tertarik mendalami spiritual murni. Mereka
berdua seringkali berdiskusi tentang ‘Kebenaran
Sejati’. Dan hasilnya, tidak ada perbedaan
diantara Shiva Buddha dan Islam.
Namun kedekatan mereka ini disalah artikan oleh
ulama-ulama radikal yang masih melihat kulit,
masih melihat perbedaan. Syeh Siti Jenar dituduh
mendekati Ki Ageng Pengging untuk mencari
dukungan kekuatan. Dan konyolnya, Ki Ageng
Pengging dikatakan sebagai murid Syeh Siti Jenar
yang hendak melakukan pemberontakan ke
Demak Bintara. Padahal Ki Ageng Pengging tidak
tertarik dengan tahta. Walaupun sesungguhnya,
memang benar bahwa beliau lah yang lebih
berhak menjadi Raja Majapahit kelak ketika
Majapahit berhasil dihancurkan oleh Raden Patah
Dan juga, Ki Ageng Pengging bukanlah seorang
muslim. Beliau dengan Syeh Siti Jenar hanyalah
seorang ‘sahabat spiritual’. Hubungan seperti ini,
tidak akan bisa dimengerti oleh mereka yang
berpandangan dangkal. Ki Ageng Pengging dan
Syeh Siti Jenar adalah seorang spiritualis sejati.
Kelak, setalah Majapahit berhasil dihancurkan
para militant Islam, dua orang sahabat ini
menjadi target utama untuk dimusnahkan. Baik
Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging gugur
karena korban kepicikan.
Dan, nama Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar
dibuat hitam. Sampai sekarang, nama keduanya
masih terus dihakimi sebagai dua orang yang
sesat dikalangan Islam. Namun bagaimanapun
juga, keharuman nama keduanya tetap terjaga
dikisi-kisi hati tersembunyi masyarakat Jawa,
walaupun tidak ada yang berani menyatakan
kekagumannya secara terang-terangan. Ironis.
Dari Ki Ageng Pengging inilah, lahir seorang tokoh
terkenal di Jawa. Yaitu Mas Karebat atau Jaka
Tngkir. Dan kelak menjadi Sultan Pajang setelah
Demak hancur dengan gelar Sultan Adiwijaya.
Keturunan di Tarub
Dikisahkan secara vulgar, suatu ketika Prabhu
Brawijaya terserang penyakit Rajasinga atau
syphilis. Para Tabib Istana sudah bekerja keras
berusaha menyembuhkan beliau, tapi penyakit
beliau tetap membandel.
Atas inisiatif beliau sendiri, setiap malam beliau
tidur diarel Pura Keraton. Memohon kepada
Mahadewa agar diberi kesembuhan. Dan konon,
setelah beberapa malam beliau memohon, suatu
malam, beliau mendapat petunjuk sangat jelas.
Dalam keheningan meditasinya, lamat-lamat
beliau ‘mendengar’ suara.
“Jika engkau ingin sembuh, nikahilah seorang
pelayan wanita berdarah Wandhan. Dan, inilah
kali terakhir engkau boleh menikah lagi.”
Mendapat ‘wisik’ yang sangat jelas seperti itu,
Prabhu Brawijaya termangu-mangu. Dan beliau
teringat, di Istana ada beberapa pelayan Istana
yang berasal dari daerah Wandhan ( Bandha
Niera, didaerah Sulawesi
).
Keesokan harinya, beliau memanggil para pelayan
istana dari daerah Wandhan. Beliau memilih yang
paling cantik. Ada seorang pelayan dari Wandhan,
bernama Dewi Bondrit Cemara, sangat cantik.
Diambillah dia sebagai istri selir. Dikemudian hari,
Dewi Bondrit Cemara dikenal dengan nama Dewi
Wandhan Kuning.
Begitu menikahi Dewi Wandhan Kuning, dan
setelah melakukan senggama beberapa kali,
penyakit Sang Prabhu berangsur-angsur sembuh.
Namun Sang Prabhu merasa perkawinannya
dengan Dewi Wandhan Kuning harus
dirahasiakan. Karena apabila kabar ini terdengar
sampai ke daerah Wandhan, pasti para
bangsawan Sulawesi merasa terhina oleh sebab
Sang Prabhu bukannya mengambil salah seorang
putri bangsawan Wandhan, tapi malah mengambil
seorang pelayan.
Dewi Wandhan Kuning mengandung, hingga
akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki, putra
ini lantas dititipkan kepada Kepala Urusan Sawah
Istana, Ki Juru Tani. ( Waktu itu, Istana memiliki
areal pesawahan khusus yang hasilnya untuk
dikonsumsi oleh seluruh kerabat Istana. )
Anak ini diberi nama Raden Bondhan Kejawen (
Bondhan perubahan dari kata Wandhan. Kejawen
berarti yang telah berdarah Jawa.
)
Raden Bondhan Kejawen dibesarkan oleh Ki Juru
Tani. Dan manakala sudah berangsur dewasa,
atas perintah Sang Prabhu, Raden Bondhan
Kejawen dikirimkan kepada Ki Ageng Tarub,
seorang Pandhita Shiva yang memiliki Ashrama di
daerah Tarub ( sekitar Purwodadi, Jawa Tengah
sekarang. )
Jika anda pernah mendengar legenda Jaka Tarub
dan Dewi Nawangwulan, maka inilah dia. Jaka
Tarub yang konon mencuri selendang bidadari
Dewi Nawangwulan dan lantas ditinggal oleh sang
bidadari setelah sekian lama menjadi istri beliau
karena ketahuan bahwa yang menyembunyikan
selendang itu adalah Jaka Tarub sendiri. ( Saya
tidak akan membedah simbolisasi legenda ini
disini, karena tidak sesuai dengan topic yang saya
bahas : Damar Shashangka ).
Jaka Tarub inilah yang lantas dikenal dengan
nama Ki Ageng Tarub. Menginjak dewasa, Raden
Bondhan Kejawen dinikahkan dengan Dewi
Nawangsih, putri tunggal Ki Ageng Tarub. Dan
kelak Raden Bondhan Kejawen bergelar Ki Ageng
Tarub II.
Dari hasil perkawinan Raden Bondhan Kejawen
dengan Dewi Nawangsih, lahirlah Raden Getas
Pandhawa. Dari Raden Getas Pandhawa, lahirlah
Ki Ageng Sela yang hidup sejaman dengan Sultan
Trenggana, Sultan Demak ketiga. Ki Ageng Sela
inilah tokoh yang konon bisa memegang petir
sehingga menggegerkan seluruh Kesultanan
Demak ( simbolisasi lagi, kapan-kapan saya ulas :
Damar Shashangka
).
Sampai sekarang nama Ki Ageng Sela terkenal di
tengah masyarakat Jawa. Ki Ageng Sela inilah
keturunan Tarub yang mulai beralih memeluk
Islam. Beliau berguru kepada Sunan Kalijaga.
Perpindahan agama ini berjalan dengan damai.
Nama Islam beliau adalah Ki Ageng Abdul
Rahman.
Dari Ki Ageng Sela, lahirlah Ki Ageng Mangenis
Sela. Dari Ki Ageng Mangenis Sela, lahirlah Ki
Ageng Pamanahan. Dan dari Ki Ageng Pamanahan
lahirlah Panembahan Senopati Ing Ngalaga, tokoh
terkenal pendiri dinasti Mataram Islam
dikemudian hari. ( Panembahan Senopati Ing
Ngalaga Mataram inilah leluhur Para Sultan
Kasultanan Jogjakarta, Para Sunan Kasunanan
Surakarta (Solo), Pakualaman dan Mangkunegaran
sekarang.
)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik