PASAR PATI

Kumpulan semua warga pati dan sekitarnya untuk menjalin persahabatan


You are not connected. Please login or register

Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit Part V

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

whotte2


Admin
Mendengar Gresik melepaskan diri dari pusat
kekuasan, Prabhu Brawijaya, sebagai Raja Diraja
Nusantara yang sah, segera mengirimkan pasukan
tempur untuk menjebol Giri Kedhaton. Darah
tertumpah. Darah mengalir. Dan akhirnya, Giri
Kedhaton bisa ditaklukkan. Kekhalifahan Islam
bertama itu tidak berumur lama. Namun kelak,
setelah Majapahit hancur oleh serangan Demak
Bintara, Giri Kedhaton eksis lagi mulai tahun 1487
Masehi. ( Sembilan tahun setelah Majapahit
hancur pada tahun 1478 Masehi
).
Dari sumber Islam, banyak cerita yang
memojokkan pasukan Majapahit. Konon Sunan
Giri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya
dengan melemparkan sebuah kalam atau
penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah
menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga
membuat puyeng atau munyeng para prajurid
Majapahit. Maka dikatakan, ‘kalam’ yang bisa
membuat ‘munyeng’ inilah senjata andalan Sunan
Giri. Maka dikenal dengan nama ‘Kalamunyeng’.
Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan
Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan
semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan
pemberontakan yang sempat ‘memusingkan’
Majapahit.
Namun, karena Sunan Ampel meminta
pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan
Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-
geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik
Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit. Inilah
kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu
meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa
membahayakan.
Sabdo Palon dan Naya Genggong sudah
mengingatkan agar seorang yang bersalah harus
mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah
kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang
Raja. Salah satu kewajiban menjalankan janji suci
sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili
siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu
bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu
ANGKASHA (Ruang ), Raja harus memberikan
ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya,
VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan
pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya
bagai angin, AGNI (Api ), Raja harus memberikan
hukuman yang seadil-adilnya kepada yang
bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang
membakar, TIRTA (Air ), Raja harus mampu
menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi
rakyatnya bagaikan air yang mampu
menumbuhkan biji-bijian, PRTIVI ( Tanah), Raja
harus mampu memberikan tempat yang aman
bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa
ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau
menampung semua manusia, SURYA ( Matahari ),
Raja harus mampu memberikan jaminan
keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang
bulu seperti Matahari yang memberikan
kehidupan kepada mayapada, CHANDRA (Bulan ),
Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari
keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan,
bagaikan sang rembulan yang menyinari
kegelapan dimalam hari, dan yang terakhir adalah
KARTIKA ( Bintang ), Raja harus mampu
memberikan aturan-aturan hukum yang jelas,
kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan,
kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang
gemintang yang mampu menunjukkan arah mata
angin dengan pasti dikala malam menjalang.
Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebut
ASTHAVRATA (Astobroto ; Jawa ). Dan menurut
Sabdo Palon dan Naya Genggong, Prabhu
Brawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya
sebagai AGNI.
Mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan
Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram
hukumnya menyerang Majapahit, karena
bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah
Imam yang wajib dipatuhi. Setelah keluar fatwa
dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai
mereda.
Namun bagaimanapun juga, dikalangan orang-
orang Islam diam-diam terbagi menjadi dua kubu.
Yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya
Kekhalifahan Islam Jawa, dan kubu yang tidak
menginginkan berdirinya Kekhalifahan itu. Kubu
kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan
Majapahit, yang notabene Shiva Buddha, ummat
Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan
ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun
boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.
Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri,
sedangkan kubu kedua dipelopori oleh Sunan
Kalijaga, putra Adipati Tuban Arya Teja,
keponakan Sunan Ampel. Kubu Sunan Giri
mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk
Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, maka
pantas disebut PUTIHAN (Kaum Putih ). Dan
mereka menyebut kubu yang dipimpin Sunan
Kalijaga sebagai ABANGAN (Kaum Merah
).
Bibit perpecahan didalam orang-orang Islam
sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api
dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup.
Kelak, ketika Majapahit berhasil dijebol oleh para
militant Islam dan ketika Sunan Ampel sudah
wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal
yang berdarah-darah ( Yang paling parah dan
memakan banyak korban, sampai-sampai para
investor dari Portugis melarikan diri ke Malaka
dan menceritakan di Jawa tengah terjadi situasi
chaos dan anarkhis yang mengerikan, adalah
pertikaian antara Arya Penangsang, santri Sunan
Kudus, penguasa Jipang Panolan dari kubu
Putihan dengan Jaka Tingkir atau Mas Karebet,
santri dari Sunan Kalijaga, penguasa Pajang dari
kubu Abangan. Nanti akan saya ceritakan : Damar
Shashangka ).

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik