PASAR PATI

Kumpulan semua warga pati dan sekitarnya untuk menjalin persahabatan

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Login

Lupa password?



RSS feeds

Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Statistics
Total 38 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah enjelins

Total 2234 kiriman artikel dari user in 564 subjects

You are not connected. Please login or register

Runtuhnya Kerajaan Majapahit Part II

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

whotte2


Admin
Kondisi Majapahit stabil lagi. Hingga pada tahun
1453 Masehi, tahta Majapahit dipegang oleh
Raden Kertabhumi yang lantas terkenal dengan
gelar Prabhu Brawijaya ( Bhre Wijaya). Pada
jaman pemerintahan beliau inilah, Islamisasi
mulai merambah wilayah kekuasaan Majapahit,
dimulai dari Malaka. Dan kemudian, mulai masuk
menuju ke pusat kerajaan, ke pulau Jawa.
Dan kisahnya adalah sebagai berikut :
Diwilayah Kamboja selatan, dulu terdapat
Kerajaan kecil yang masuk dalam wilayah
kekuasaan Majapahit. Kerajaan Champa
namanya. ( Sekarang hanya menjadi
perkampungan Champa ). Kerajaan ini berubah
menjadi Kerajaan Islam semenjak Raja Champa
memeluk agama baru itu. Keputusan ini diambil
setelah seorang ulama Islam datang dari
Samarqand, Bukhara. ( Sekarang didaerah Rusia
Selatan ). Ulama ini bernama Syeh Ibrahim As-
Samarqand. Selain berpindah agama, Raja
Champa bahkan mengambil Syeh Ibrahim As-
Samarqand sebagai menantu.
Raja Champa memiliki dua orang putri. Yang
sulung bernama Dewi Candrawulan dan yang
bungsu bernama Dewi Anarawati. Syeh Ibrahim
As-Samarqand dinikahkan dengan Dewi
Candrawati. Dari hasil pernikahan ini, lahirlah dua
orang putra, yang sulung bernama Sayyid ‘Ali
Murtadlo, dan yang bungsu bernama Sayyid ‘Ali
Rahmad. Karena berkebangsaan Champa ( Indo-
china ), Sayyid ‘Ali Rahmad juga dikenal dengan
nama Bong Swie Hoo. ( Nama Champa dari Sayyid
‘Ali Murtadlo, Raja Champa, Dewi Candrawulan
dan Dewi Anarawati, saya belum mengetahuinya :
Damar Shashangka
).
Kerajaan Champa dibawah kekuasaan Kerajaan
Besar Majapahit yang berpusat di Jawa. Pada
waktu itu Majapahit diperintah oleh Raden
Kertabhumi atau Prabhu Brawijaya semenjak
tahun 1453 Masehi. Beliau didampingi oleh
adiknya Raden Purwawisesha sebagai Mahapatih.
Pada tahun 1466, Raden Purwawisesha
mengundurkan diri dari jabatannya, dan sebagai
penggantinya diangkatlah Bhre Pandhansalas.
Namun dua tahun kemudian, yaitu pada tahun
1468 Masehi, Bhre Pandhansalas juga
mengundurkan diri.
Praktis semenjak tahun 1468 Masehi, Prabhu
Brawijaya memerintah Majapahit tanpa
didampingi oleh seorang Mahapatih. Apakah
gerangan dalam masa pemerintahan Prabhu
Brawijaya terjadi dua kali pengunduran diri dari
seorang Mahapatih? Sebabnya tak lain dan tak
bukan karena Prabhu Brawijaya terlalu lunak
dengan etnis China dan orang-orang muslim.
Diceritakan, begitu Prabhu Brawijaya naik tahta,
Kekaisaran Tiongkok mengirimkan seorang putri
China yang sangat cantik sebagai persembahan
kepada Prabhu Brawijaya untuk dinikahi. Ini
dimaksudkan sebagai tali penyambung
kekerabatan dengan Kekaisaran Tiongkok. Putri ini
bernama Tan Eng Kian. Sangat cantik. Tiada
bercacat. Karena kecantikannya, setelah Prabhu
Brawijaya menikahi putri ini, praktis beliau hampi-
hampir melupakan istri-istrinya yang lain. (
Prabhu Brawijaya banyak memiliki istri, dari
berbagai istri beliau, lahirlah tokoh-tokoh besar.
Pada kesempatan lain, saya akan
menceritakannya : Damar Shashangka
).
Ketika putri Tan Eng Kian tengah hamil tua,
rombongan dari Kerajaan Champa datang
menghadap. Raja Champa sendiri yang datang.
Diiringi oleh para pembesar Kerajaan dan ikut
juga dalam rombongan, Dewi Anarawati. Raja
Champa banyak membawa upeti sebagai tanda
takluk. Dan salah satu upeti yang sangat berharga
adalah, Dewi Anarawati sendiri.
Melihat kecantikan putri berdarah indo-china ini,
Prabhu Brawijaya terpikat. Dan begitu Dewi
Anarawati telah beliau peristri, Tan Eng Kian, putri
China yang tengah hamil tua itu, seakan-akan
sudah tidak ada lagi di istana. Perhatian Prabhu
Brawijaya kini beralih kepada Dewi Anarawati.
Saking tergila-gilanya, manakala Dewi Anarawati
meminta agar Tan Eng Kian disingkirkan dari
istana, Prabhu Brawijaya menurutinya. Tan Eng
Kian diceraikan. Lantas putri China yang malang
ini diserahkan kepada Adipati Palembang Arya
Damar untuk diperistri. Adipati Arya Damar
sesungguhnya juga peranakan China. Dia adalah
putra selir Prabhu Wikramawardhana, Raja
Majapahit yang sudah wafat yang memerintah
pada tahun 1389-1429 Masehi, dengan seorang
putri China pula.
Nama China Adipati Arya Damar adalah Swan
Liong. Menerima pemberian seorang janda dari
Raja adalah suatu kehormatan besar. Perlu
dicatat, Swan Liong adalah China muslim. Dia
masuk Islam setelah berinteraksi dengan etnis
China di Palembang, keturunan pengikut
Laksamana Cheng Ho yang sudah tinggal lebih
dahulu di Palembang. Oleh karena itulah,
Palembang waktu itu adalah sebuah Kadipaten
dibawah kekuasaan Majapahit yang bercorak
Islam.
Arya Damar menunggu kelahiran putra yang
dikandung Tan Eng Kian sebelum ia menikahinya.
Begitu putri China ini selesai melahirkan,
dinikahilah dia oleh Arya Damar.
Anak yang lahir dari rahim Tan Eng Kian, hasil
dari pernikahannya dengan Prabhu Brawijaya,
adalah seorang anak lelaki. Diberi nama Tan Eng
Hwat. Karena ayah tirinya muslim, dia juga diberi
nama Hassan. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan
nama Raden Patah!
Dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Tan
Eng Kian, lahirlah juga seorang putra. Diberinama
Kin Shan. Nama muslimnya adalah Hussein. Kelak
di Jawa, dia terkenal dengan nama Adipati
Pecattandha, atau Adipati Terung yang terkenal
itu!

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik